Dijarak 200 meter ku lihat samara sesosok tubuh mungil yang
menghinggapi setiap kuda bermesin yang sedang menunggu datangnya warna hijau,
Panas terik tak mengacaukan niat yang terselip di sela-sela harapannya untuk bisa mebeli sebutir karbohidrat untuk memberi makan cacing yang menggeliat dan berteriak-teriak tadi sejak pagi di dalam tubuhnya,
Nyanyian tak merdu ia lantunkan bersama tetesan keringat didahinya yang hampir kering terdesak oleh dehidrasi,
Tanpa ada cita-cita yang ia gantungkan di awing-awang,
Yang dia punya hanyalah suara dan kaleng kecil tuk di isi segrincing belas kasihan dari pahlawannya yang mengeluhkan kehadirannya.